DiKisahkan

•January 20, 2009 • Leave a Comment

Dikisahkan, ada seorang pria yang sedang mengalami masalah bertubi-tubi. Rumah tangganya tidak harmonis. Bersamaan dengan itu, dia pun terkena perampingan karyawan di perusahaannya sehingga dia harus berhenti bekerja.

Pada waktu yang senggang, dia berpikir dan mengevaluasi diri. Apa yang salah dengan hidupku? Mengapa aku gagal terus? Bagaimana caranya untuk merubah kegagalan dengan kesuksesan?

Dimulailah pencarian jawaban atas pertanyaannya dengan pergi ke toko buku dan membeli buku-buku yang dianggapnya mampu memberi jawaban. Setelah beberapa buku habis di baca, dia merasa tidak puas dan tidak pula menemukan jawabannya. Tiba-tiba timbul inspirasi di pikirannya, kenapa aku tidak menanyakan langsung saja ke penulis buku-buku itu? Pasti akan lebih berhasil bila aku bisa mendapatkan petunjuk langsung dari si penulis. Maka ditemuilah si penulis buku. Setelah menceritakan semua kegagalan yang dialaminya, dia berkata, “Tuan penulis, tolong ajarkan kepada saya, rumus dan cara yang bisa membuat saya sukses”. Si penulis pun menjawab, “Kalau anda membaca buku saya dengan teliti, dan menjalankan dengan nyata , tentu akan ditemukan cara-cara menuju sukses” ”Saya sudah membaca habis, bahkan hafal isi buku anda, tetapi tetap saja belum menemukan rumus sukses. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk bertanya langsung”.

Si penulis berpikir sejenak dan berkata, “Baiklah, saya akan ketemukan kamu dengan seseorang. Biar dia yang memberitahu kamu bagaimana cara sukses dalam hidup ini”. Dengan gembira si pria bertanya, “Dimana orang itu bisa saya temui?” Si penulis mengajak pria itu ke sebuah kamar, “Dia ada di dalam kamar ini”. Maka Pria itu pun mengetuk pintu dan segera masuk ke dalam kamar. Namun dia heran karena tidak ada seorangpun di dalam kamar tsb, yang ada hanya sebuah cermin besar. Lalu si Penulis berkata, “Lihatlah ke cermin itu. Orang yang ada di cermin itu adalah sang penolong yang kamu cari untuk menunjukkan bagaimana caranya meraih sukses. Sesungguhnya hanya kamu yang bisa menolong dirimu sendiri, tanpa kamu berani memulai dari dirimu sendiri untuk berusaha dan berjuang maka kamu tidak akan meraih sukses!”
Seketika itu juga si pemuda tersadar, “Terima kasih pak penulis. Saya akan berusaha lebih tekun dan mengandalkan diri sendiri untuk mempraktekkan teori yang telah saya dapat dan pelajari!

Hidup adalah rangkaian aktivitas yang kita lakukan setiap hari, kalau perasaan malas, tidak disiplin, bimbang, ragu2 dan lain sebagainya menguasai diri kita , tentu nasib buruklah yang kita dapat.

Sukses bukanlah teori, sebagai manusia yang telah di karuniai segenap kelebihan-kelebihan olah Tuhan, kita harus berani mengembangkan diri dan mengandalkan diri sendiri untuk berpikir, bergerak dan berjuang .
Kalau mental kemandirian telah kita miliki, dan tidak cengeng dalam menghadapi kesulitan hidup, berani belajar dalam setiap tindakan yang kita ambil . maka pasti nasib kita akan berubah dan meraih sukses yang membanggakan!

Jangan Tanya Pada Rumput Yang Bergoyang

•January 20, 2009 • Leave a Comment

Bumi berubah,  di saat seharusnya panas mendera bumi dalam balutan kemarau yang kering kerontang kita malah kebanjiran.  Gempa bumi yang seolah tak berkesudahan mendera dunia, bukan hanya di tanah Sumatera, tetapi sudah merambah sampai benua Eropah. Banjir di sana, kekeringan di sudut lainnya. Seolah belum cukup manusia menderita. Banyak orang bertanya mengapa???

Mengapa Tuhan menghukum umat manusia. Sesungguhnya pertanyaan itu adalah pertanyaan yang bersifat mencari kambing hitam. Dengan segala kelakuan tak berkesadaran, kita menabung benih bencana. Keinginan untuk hidup mudah dan nyaman , membuat manusia menciptakan berbagai benda yang bermanfaat sementara namun berefek merusak berkepanjangan, seperti plastik, Air Conditioner dan kulkas.

Perkembang biakan manusia yang pesat, membuat luas hutan berkurang drastis untuk kita jadikan lahan tinggal dan kayunya dipakai untuk rumah dan keperluan lainnya. Hutan bakau diuruk, gunung dipenggal, sungai diluruskan. Semua orang, sengaja atau tidak sengaja, telah menyumbang untuk kerusakan alam dan lingkungan. Ketika hari akumulasi itu tiba, sungguh tak wajar kalau kita bertanya mengapa.Ingatan manusia kelihatannya berjangka sangat pendek. Ketika bencana datang, semua menderita, berjanji untuk menjalankan hidup yang lebih berkesadaran, namun ketika bencana pergi, ingatan akan saat sulitpun ikut pergi. Orang – orang kembali menikmati alam yang kembali beristirahat setelah menggeliat kelelahan, dengan sembrono, tanpa mengingat komitmen sebelumnya untuk melindungi tempat berpijaknya.

Kita  dengan lingkungan memiliki pertalian hubungan yang saling bergantung. Manusia muncul dari alam, dipelihara oleh alam dan memelihara alam. Seperti seekor lebah yang mengisap sari bunga, lebah mendapatkan makanan,  bunga juga dibantu melakukan penyerbukan. Merusak kehidupan bahkan sebutir benih pun membawa konsekuensi yang tidak kecil bagi diri sendiri, sementara melindungi kehidupan akan membawa kebahagiaan bagi semua. Beberapa pahlawan lingkungan melakukan hal-hal yang sulit seperti membersihkan sungai seorang diri, atau tinggal bersama komunitas orang utan dalam hutan. Kita  dapat  melakukan upaya tersebut tidak harus dalam skala yang begitu besar, tetapi dapat diwujudkan  dalam skala yang lebih kecil, namun bukan berarti tidak berguna.

Sesuatu yang kelihatan sepele akan terlihat raksasa jika dilakukan bersama-sama. Menghemat pemakaian listrik dan air, serta mengurangi penggunaan plastik dapat mengurangi beban yang dipikul dunia. Apalagi jika tiap orang menanam sebatang pohon di mana saja, maka hijau di muka bumi bukan lagi slogan kosong. Sudah saatnya pengetahuan dan kesadaran lingkungan ditingkatkan.  Pohon dan orang memiliki jalinan hubungan yang erat. Kita hanya dapat menjadi manusia yang hidup dan bernafas dengan adanya pohon. Tanpa pohon, oksigen musnah, manusia tinggal fosil belaka. Kembali kita melihat pada prinsip keseimbangan. Jika ada yang ditebang, ada pula yang ditanam, maka keseimbangan terpelihara.

Pertambahan manusia tidak lagi menjadi beban bagi alam, dan manusia tetap dapat mencukupi dirinya dari apa yang alam berikan. Ketika orang menginginkan lebih dari yang ia perlukan, saat itu keserakahan berbicara, dan seluruh alam tidak lagi cukup untuk memenuhi dahaga serakah itu

Oleh : Mina W


Senyum Di balik Masalah

•January 20, 2009 • Leave a Comment

Alkisah, pada zaman dulu hiduplah seorang wanita yang telah menikah dan menjadi ibu rumah tangga yang mengurusi rumah tangga dan ke tiga orang anaknya yang masih kecil. Suaminya bekerja di tempat yang jauh, sehingga hanya pulang beberapa hari sekali. Istrinyalah yang mengurus semua yang berhubungan dengan keluarganya.

Akan tetapi, wanita ini sangat mengeluhkan tingkah laku ke tiga anaknya yang begitu buruk yang membuatnya sakit hati bukan kepalang. Anak-anaknya selalu membuat keributan yang membisingkan, sering bertengkar satu sama lain, membuat lantai rumah menjadi kotor dan tidak takut dengan omelan ibunya.

Melihat kelakuan anak-anaknya, sang ibu hanya bisa pasrah dan melapangkan dada tanpa dapat melakukan apa-apa. Setiap hari selalu begitu terus, ditambah lagi harus mengerjakan tumpukan pekerjaan rumah yang semakin lama semakin membuat sang ibu hampir pecah kepalanya.

Tidak tahan lagi dengan ini semua, akhirnya sang ibu menemui seorang yang bijak yang terkenal dapat memecahkan masalah apapun tanpa masalah. Akhirnya sang ibu tadi berhasil menemui orang bijak tersebut yang bertanya dengan penuh senyum, “Ada yang bisa dibantu? Ada masalah?”, sambil memandang wanita itu yang kelihatan murung. Sang ibu akhirnya menceritakan kepedihannya dan segala unek-unek yang terkubur dalam hatinya kepada orang bijak tersebut, dan bertanya apakah ia punya solusi atas masalah yang menimpanya.

Dengan senyum dan tawa kecil, orang bijak itupun menjelaskan, “Nyonya, melihat apa yang telah Anda ceritakan kepada Saya, seharusnya Anda sedikit bersyukur.” Sang ibu sedikit bingung dan berkata, “Bersyukur? Apanya yang harus disyukuri? Setiap hari saya makan hati melihat anak-anak saya” sambil memandang orang bijak tersebut, bingung lagi.

Orang bijak menjelaskan lagi, “Begini, coba nyonya lihat masalah ini dari sisi lain yang lebih positif. Rumah Anda begitu bising karena ulah ketiga anak Anda. Itu berarti rumah Anda begitu hidup karena kehadiran, tawa dan tangis mereka. Karena anak-anaklah, keluarga Anda begitu sempurna. Sekarang coba Anda bayangkan jika Anda tidak memiliki anak. Rumah Anda pasti akan sepi dan terasa mati. Anda pasti akan merasa sendirian, bosan dan kesepian. Bukankah itu harapan setiap orang tua atas kehadiran anak di dunia ini. Coba Anda lihat orang-orang yang tidak memiliki anak, bagaimana kesedihan mereka, bagaimana mereka selalu berdoa penuh harap supaya memiliki anak, bagaimana mereka rindu akan tangisan dan tawa seorang anak. Bahkan seorang suami menceraikan istrinya dan menikah dengan wanita lain karena tidak memiliki anak. Anda patut beryukur kepada Tuhan atas semua yang telah diberikannya kepada Anda. Anda seharusnya gembira karena kehadiran anak-anak Anda memberi warna pada hidup anda. Anda pasti bisa mendidik mereka dengan baik.”

Sang ibu tiba-tiba tersenyum lebar mendengar penjelasan yang sungguh bijaksana dari orang bijak tersebut. Sejak itu ia lebih bahagia dari sebelumnya dan bersyukur atas semua yang ia miliki.

Pesan kepada pembaca:

Di dunia ini, selalu ada hal yang berpasang-pasangan. Dibalik kegagalan, pasti ada kesuksesan, ada kekalahan dan kemenangan, miskin kaya, tua muda, sedih gembira dan lainnya. Di balik setiap hal-hal yang negatif, pasti ada hal-hal positif yang bisa kita petik. Di balik setiap permasalahan, pasti ada jalan keluar menuju pemecahannya.

Sering kali kita selalu memberikan fokus kita terhadap hal-hal yang buruk. Hal ini tentu saja membuat Anda berada dalam keadaan yang negatif. Anda tidak akan pernah memperoleh hikmah dan keuntungan apapun jika Anda selalu negatif terhadap apapun. Seperti yang sudah dikatakan, di balik hal negatif, pasti ada hal positif. Ubah fokus dan perhatian Anda hanya pada hal-hal yang positif, sehingga senyum kebahagiaan akan selalu menyertai Anda sepanjang hidup. Anda tidak perlu mengasihani diri sendiri atas hal-hal buruk yang menimpa Anda. Tugas yang perlu Anda lakukan hanyalah melihatnya melalui sudut pandang positif. Inilah hal penting yang harus Anda lakukan yang dapat membuat Anda lebih percaya diri dalam menghadapi hidup yang berliku-liku dan sering tidak berjalan sesuai dengan harapan Anda. Dengan begitu, hidup akan terasa mudah untuk dijalani dan dilewati dengan penuh semangat.

Oleh : Suhardi


 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.