Jangan Tanya Pada Rumput Yang Bergoyang
Bumi berubah, di saat seharusnya panas mendera bumi dalam balutan kemarau yang kering kerontang kita malah kebanjiran. Gempa bumi yang seolah tak berkesudahan mendera dunia, bukan hanya di tanah Sumatera, tetapi sudah merambah sampai benua Eropah. Banjir di sana, kekeringan di sudut lainnya. Seolah belum cukup manusia menderita. Banyak orang bertanya mengapa???
Mengapa Tuhan menghukum umat manusia. Sesungguhnya pertanyaan itu adalah pertanyaan yang bersifat mencari kambing hitam. Dengan segala kelakuan tak berkesadaran, kita menabung benih bencana. Keinginan untuk hidup mudah dan nyaman , membuat manusia menciptakan berbagai benda yang bermanfaat sementara namun berefek merusak berkepanjangan, seperti plastik, Air Conditioner dan kulkas.
Perkembang biakan manusia yang pesat, membuat luas hutan berkurang drastis untuk kita jadikan lahan tinggal dan kayunya dipakai untuk rumah dan keperluan lainnya. Hutan bakau diuruk, gunung dipenggal, sungai diluruskan. Semua orang, sengaja atau tidak sengaja, telah menyumbang untuk kerusakan alam dan lingkungan. Ketika hari akumulasi itu tiba, sungguh tak wajar kalau kita bertanya mengapa.Ingatan manusia kelihatannya berjangka sangat pendek. Ketika bencana datang, semua menderita, berjanji untuk menjalankan hidup yang lebih berkesadaran, namun ketika bencana pergi, ingatan akan saat sulitpun ikut pergi. Orang – orang kembali menikmati alam yang kembali beristirahat setelah menggeliat kelelahan, dengan sembrono, tanpa mengingat komitmen sebelumnya untuk melindungi tempat berpijaknya.
Kita dengan lingkungan memiliki pertalian hubungan yang saling bergantung. Manusia muncul dari alam, dipelihara oleh alam dan memelihara alam. Seperti seekor lebah yang mengisap sari bunga, lebah mendapatkan makanan, bunga juga dibantu melakukan penyerbukan. Merusak kehidupan bahkan sebutir benih pun membawa konsekuensi yang tidak kecil bagi diri sendiri, sementara melindungi kehidupan akan membawa kebahagiaan bagi semua. Beberapa pahlawan lingkungan melakukan hal-hal yang sulit seperti membersihkan sungai seorang diri, atau tinggal bersama komunitas orang utan dalam hutan. Kita dapat melakukan upaya tersebut tidak harus dalam skala yang begitu besar, tetapi dapat diwujudkan dalam skala yang lebih kecil, namun bukan berarti tidak berguna.
Sesuatu yang kelihatan sepele akan terlihat raksasa jika dilakukan bersama-sama. Menghemat pemakaian listrik dan air, serta mengurangi penggunaan plastik dapat mengurangi beban yang dipikul dunia. Apalagi jika tiap orang menanam sebatang pohon di mana saja, maka hijau di muka bumi bukan lagi slogan kosong. Sudah saatnya pengetahuan dan kesadaran lingkungan ditingkatkan. Pohon dan orang memiliki jalinan hubungan yang erat. Kita hanya dapat menjadi manusia yang hidup dan bernafas dengan adanya pohon. Tanpa pohon, oksigen musnah, manusia tinggal fosil belaka. Kembali kita melihat pada prinsip keseimbangan. Jika ada yang ditebang, ada pula yang ditanam, maka keseimbangan terpelihara.
Pertambahan manusia tidak lagi menjadi beban bagi alam, dan manusia tetap dapat mencukupi dirinya dari apa yang alam berikan. Ketika orang menginginkan lebih dari yang ia perlukan, saat itu keserakahan berbicara, dan seluruh alam tidak lagi cukup untuk memenuhi dahaga serakah itu
Oleh : Mina W
